Selasa, 18 Juni 2013

BORNEO MUPEN ON THE ROAD JANGKAU MASYARAKAT TERPENCIL


Nanga Tayap,  Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Kalimantan Barat, Ir. Dwi Listyawardani,  mengungkapkan  Pesona  Bhayangkara   Kencana   Borneo   Mupen  On   The Road diharapkan   dapat    menjangkau   dan    melayani    masyarakat di daerah pedalaman serta terpencil. Karena   disadari    masih    banyak   Pasangan   Usia Subur di Kalbar yang berada di daerah daerah terpencil,  tertinggal,   perbatasan,  daerah   aliran   sungai   dan kepulauan yang belum mendapatkan pelayanan  KB  yang  maksimal  karena keterbatasan akses informasi dan pelayanan," katanya disela pemutaran  film  mengenai  Keluarga Berencana di Nanga Tayap, baru-baru ini. 

                           Ket : Rombongan BMOR menyeberangi Sungai menggunakan Ferry.
           Ia mengatakan, prinsip kemitraan dalam penggarapan Program KB, dan dengan dukungan dari berbagai pihak, Kalbar telah berhasil memperoleh hasil capaian pelayanan KB melampaui   perkiraan permintaan  kebutuhan  masyarakat  yang  telah  ditetapkan.  Dwi  Listyawardani  mengatakan,  kerja sama   antara   jajaran  Kepolisian   dan  jajaran  BKKBN  bersama   Pemerintah Provinsi dan dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Polres dan Polresta, diharapkan dapat meminimalisir masalah tersebut.   " yang  jelas   kegiatan  ini   memberikan  kemudahan  akses  pelayanan   bagi   masyarakat diseluruh pelosok Kalbar,"  katanya.    Dwi   Listyawardani   mengatakan,  kondisi  kualitas penduduk Kalbar  saat  ini  masih sangat rendah.  Hal  ini  tercermin  dari tingkat pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraan yang masih sangat rendah pula. "Oleh karena itu tingkat kelahiran harus tetap dikendalikan  termasuk   di daerah   yang jarang   penduduknya, sebab jika penduduk tidak dikendalikan kelahirannya, maka akan semakin banyak penduduk baru lahir dengan kualitas rendah," kata mantan Sekretaris BKKBN Jawa Timur ini.
          
         Ditambahkannya, dan daerah yang jarang penduduknya akan semakin diisi oleh penduduk yang rendah kualitasnya, sehingga akan semakin sulit bagi pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya.
"Jika pemerintah daerah tidak mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengendalikan kelahiran, maka dampak yang akan kita rasakan bersama sama adalah meningkatnya pemenuhan kebutuhan baru untuk bayi, balita, dan anak usia sekolah, serta bahkan untuk kebutuhan untuk ibu hamil dan melahirkan," jelas Dwi Listyawardani. Bulan Bhakti KB Kesehatan Bhayangkara ini menargetkan sasaran sebanyak 1083 akseptor selama periode Mei-Juli 2013, diantaranya peserta KB baru pasca persalinan/keguguran sebanyak 759 akseptor dan ganti cara (dari pil suntikan ke MKJP) sebanyak 324 akseptor. (nia Berkat diposting Adi Latbang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimasih telah memberikan komentar