Senin, 01 April 2013

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELUARGA MELALUI POSDAYA


Seusai sarapan pagi di Hotel Kartika Chandra pada hari Selasa, 26 Maret 2013, peserta menuju Haryono Suyono Center (HSC) di Siti Padmirah College, Jl. Pengadegan Barat No. 4, Perdatam Jakarta Selatan menggunakan bis.
                                     Ket : Peserta di diangkut menggunakan bis menuju HSC.
  Sesampainya di sana, peserta disambut oleh Ibu Hj. Hastinah Astuty Haryono Suyono dan tim HSC. Peserta diajak melihat kebun bergizi Ibu Astuty yang terletak di lantai 3. Yang menarik adalah meskipun Ibu Astuty sudah memasuki usia 70 tahun, beliau tetap enerjik menyambut dan mengantarkan para peserta untuk melihat kebun bergizi miliknya yang terletak di lantai 3. Kebun bergizi tersebut terdiri dari berbagai tanaman sayur dan buah yang ditanam dalam pot dan polybag. Di HSC yang juga merupakan rumah keluarga Haryono Suyono juga terdapat kolam ikan dengan 4 ukuran sebagai contoh bagi peserta.
                                   Ket : Peserta diajak melihat tanaman sayuran di atap HSC.
Kemudian peserta kembali ke aula untuk acara pembukaan yang diawali dengan sambutan dari Ibu Astuty Haryono Suyono, dilanjutkan dengan sambutan dari wakil peserta yang dalam hal ini diwakili oleh Prof. Dr. Hidayat, MP dari Fakultas Pertanian sekaligus Ketua LPPM Universitas Tanjungpura.

Selanjutnya Dr. Subiakto Tjakrawerdaja selaku Sekretaris Yayasan Damandiri memberi sambutan sekaligus membuka kegiatan OST. Dr. Subiakto Tjakrawerdaja dalam sambutannya menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
Ø Sejak Posdaya diluncurkan pada bulan Juli 2011, HSC telah melatih sebanyak 4600 peserta didik Training of Trainer Pos Pemberdayaan Keluarga (TOT Posdaya). Angkatan didik kali ini adalah angkatan ke-40.
Ø Posdaya dibentuk karena ada kerisauan yang berkaitan dengan banyaknya jumlah keluarga miskin di Indonesia. Data BPS yang disampaikan oleh Apriliani menunjukkan bahwa terjadi perlambatan dalam penurunan keluarga miskin, sehingga sampai saat ini kita masih memiliki sekitar 70 juta rakyat miskin.
Ø Data BPS memperlihatkan tingginya Gini Ratio antara penduduk kaya-miskin, yakni sebesar 0,42.
Ø Oleh karena itu, maka tema besar pendirian Posdaya adalah:
1)   Bagaimana mewujudkan kesejahteraan umum sesuai cita-cita para pendiri bangsa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
2)   Kemandirian bangsa, dalam hal pangan dan energi.
Yang membuat miris adalah saat ini kita masih mengimport sembako. Ini berarti dalam perang ekonomi yang kita hadapi saat ini, kita masih sangat tergantung secara ekonomi. Kemandirian berarti kemerdekaan. Kita kalah jauh dibanding Brazil yang mampu menghemat sumber energi yang dimilikinya dengan memanfaatkan ampas tebu sebagai biogas. Kini 80% energi yang digunakan di Brazil adalah biogas dari ampas tebu.

Ket : Dr. Subiakto Tjakrawerdaja selaku Sekretaris Yayasan Damandiri memberi sambutan               sekaligus membuka kegiatan OST
 
Ø Posdaya digagas sebagai program percepatan pemberdayaan masyarakat. Dengan hadirnya Posdaya diharapkan:
1) Agar pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah dapat memberdayakan masyarakat. Akan tetapi, pendekatan dari pemerintah saja tidak cukup, harus ada upaya dan partisipasi aktif dari masyarakat. Hal ini dapat dinalar dengan analogi matematika:
1 x 0 = 0
100 x 0 = 0
Artinya, betapa pun besar usaha dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bila tanpa ada usaha dan partisipasi dari rakyat, maka hasilnya nol besar. Oleh sebab itu, Posdaya berupaya mengintegrasikan upaya dari pemerintah dan masyarakat melalui kerja keras dan kerja cerdas. Dalam kerja cerdas inilah perguruan tinggi berperan.
2)   Gotong-royong, karena kerja sendiri tidak mungkin bisa mengatasi persaingan global.
Pada tahun 2015 nanti akan dibuka free-trade ASEAN. Dalam kondisi ini, hanya sarjana yang memiliki sertifikasi yang dapat ikut dalam persaingan. Sarjana yang tidak memiliki sertifikasi akan tersisih oleh tenaga kerja dari luar negeri.
3)   Mengintegrasikan pendekatan-pendekatan lintas sektoral.
Ø Peran Posdaya:
1)   Forum silaturahmi.
2)   Koordinator pendekatan atas bawah dan lintas sektor.
3)   Memfasilitasi dan menginisiasi pembentukan kegiatan kemasyarakatan serta merevitalisasi lembaga kemasyarakatan yang sudah ada seperti PAUD, BKB, BKR, dan Posyandu.
Ø Saat ini tengah dikembangkan Posdaya berbasis masjid untuk memakmurkan masjid.
Ø Posdaya juga ditujukan untuk mempromosikan ekonomi biru (blue economy) yang dicetuskan oleh Gunther Pauli. Ekonomi biru merupakan kelanjutan dari ekonomi hijau (green economy). Ekonomi hijau merupakan upaya untuk meminimalisir sampah atau sisa pemanfaatan barang oleh manusia yang terkenal dengan  semboyan reduce (kurangi penggunaan bahan plastik), reuse (manfaatkan kembali bahan-bahan yang masih bisa digunakan), dan recycle (daur ulang bahan-bahan yang telah digunakan). Sementara ekonomi biru artinya ekonomi tanpa sisa (zero waste), karena semua limbah diolah dan didaur ulang. Ekonomi biru disebut juga ekonomi kerakyatan.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian cinderamata kepada perwakilan dari tiap rombongan dan materi sesuai jadwal dan materi terlampir. Acara ditutup dengan makan malam bersama.
 
Keesokan harinya, pada hari Rabu, 27 Maret 2013, peserta dibagi menjadi 3 rombongan yang setiap rombongan terdiri dari 3 minibus. Ketiga rombongan ini dijadwalkan akan melakukan studi banding ke tiga Posdaya, yaitu:
1.    Rombongan pertama (diikuti oleh Yulaecha) menuju Rukodaya Kramat di Jakarta Pusat.
2.    Rombongan kedua (diikuti oleh Pranowo Adi) menuju Posdaya Sejahtera di Bubulak Bogor.
3.    Rombongan ketiga (diikuti Prof. Dr. Hidayat, MP dari Untan) menuju Posdaya Kenangan di Situgede Bogor.

Dalam kunjungan ke Rukodaya Kramat, rombongan disambut dengan kesenian marawis yang disajikan oleh ibu-ibu PKK. Rombongan menuju Aula Kelurahan Kramat untuk mendengarkan sambutan dari Wakil Camat Senen (Bapak Harry Purnama), dilanjutkan sambutan dari pimpinan rombongan (Faozan Alfikri, SH, MKM), dan paparan mengenai Rukodaya Kramat dari Bapak Herry Novian selaku Ketua RW 08 sekaligus Ketua Rukodaya Kramat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Asisten Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat, Bapak Drs. Syamsudin Lologuan dan ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Bapak Samsudin.
Rombongan kemudian diantar berkeliling untuk mengunjungi 11 lingkaran kecil yang terdiri dari BKB, BKR, BKL, PAUD, Posyandu, PKK, pengajian ibu-ibu, kelompok KB pria “Elang Laut”, kelompok usaha, PIK Keluarga, dan taman bacaan serta kebun bergizi. Dalam kunjungan ini, terlihat antusiasme warga dalam melaksanakan kegiatan di berbagai lingkaran kecil Posdaya. Antusiasme ini menurut Ketua Rukodaya disebabkan karena adanya partisipasi warga yang mampu dengan menyediakan tempat, sarana, dan menjadi donatur tetap dalam kegiatan di 11 lingkaran kecil Posdaya. Pihak pemerintah daerah juga aktif dalam melakukan follow-up terhadap warga sehingga motivasi warga untuk aktif dalam kegiatan terjaga. Aparat di Kelurahan Kramat juga sering mengadakan kegiatan lomba dan door-prize. Selain itu, pemda bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat membuat dan memberikan ID-card bagi para kader yang telah mengabdi minimal selama 5 tahun. ID-card ini berbentuk seperti e-KTP dan berfungsi sebagai semacam asuransi dimana kader mendapat jaminan berobat gratis di semua fasilitas kesehatan pemerintah.
Sementara itu kunjungan OST di Posdaya Sejahtera Kelurahan Bubulak peserta sebelum meninjau lokasi kegiatan pemberdayaan keluarga, disambut dengan acara penyambutan oleh anak-anak siswa PAUD Sejahtera yang dibina oleh Posdaya Sejahtera. Dalam penyambutan di jalan menuju lokasi tersebut anak-anak PAUD menyanyikan lagu anak-anak seperti “balonku” dan “Ke Puncak gunung” serta dilanjutkan dengan pengalungan selempang kepada 3 perwakilan rombongan.
                 Ket : Siswa PAUD Sejahtera mengalungkan Selempang kepada peserta OST.
Usai pengalungan selempang rombongan dengan diiringi musik rebana memulai peninjauan ke sejumlah sentra usaha masyarakat seperti, sentra pembuatan tas, sirup buah pala, industri rumahan konveksi dari kain perca, pembuatan yogurt, pembuatan keranjang sayuran, meninjau PAUD Sejahtera, dan mengunjungi PIK Remaja. Di lokasi ini peserta tidak hanya mengunjungi sejumlah lokasi dan berdialog langsung dengan pengrajin, tetapi juga mengadakan dialog dengan mengambil lokasi di masjid kelurahan setempat yang menghadirkan narasumber ketua Posdaya kelurahan Bululak Madsa’i, Sekretaris kelurahan setempat Karma dan perwakilan dari IPB Bogor selaku pembina Posdaya sejahtera.  
                        Ket : Sentra Industri Tas yang ditekuni anggota Posdaya Sejahtera.
Ketiga rombongan bertemu di Taman Buah Mekarsari Cileungsi Bogor untuk menerima wawasan mengenai cara bercocok tanam vertikultur dan cara membuat kompos serta arang sekam. Rombongan kemudian berkeliling taman buah dengan menaiki kereta wisata. Setelah itu, rombongan menuju HSC di Jakarta Selatan untuk menerima materi dari Prof. Dr. Haryono Suyono setelah makan malam. Acara ditutup dengan penyerahan setifikat kepada para peserta dan foto bersama.
                 Ket : Prof. Dr. Haryono Suyono menyampaikan materi tentang Peran Posdaya
                                          Dalam gerakan Pembangunan Berbasis MDGs

Dalam paparannya, Prof. Dr. Haryono Suyono berpesan:
v Gagasan Posdaya mulai muncul sekitar tahun 2000.
v Pada tahun 2000, Presiden Megawati Soekarno Putri mengikuti pertemuan di New York yang menghasilkan MDGs.
v Presiden SBY kemudian mengikuti pertemuan lanjut untuk menyempurnakan MDGs di New York pada tahun 2005. Dalam pertemuan MDGs ini disepakati bahwa kesejahteraan keluarga tidak dapat diukur hanya dengan pendapatan per kapita.
v Pada tahun 2006, Presiden SBY mengundang semua menteri, gubernur, bupati dan walikota untuk menggagas cara pencapaian MDGs, namun gagal. Kegagalan ini dikarenakan pemerintah masih memakai perspektif lama yang beranggapan bahwa masyarakat akan menuruti pamong praja.
v Oleh karena itu, Haryono Suyono memilih untuk menjalin kerjasama dengan pihak perguruan tinggi yang dianggap lebih jeli dalam memahami kondisi masyarakat saat ini. Solusi yang diperoleh dari kerjasama ini adalah pembentukan Posdaya. Kesepakatan yang dijalin dengan pihak perguruan tinggi adalah bahwa kegiatan pembentukan dan penumbuhan Posdaya merupakan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
v Kesalahan utama program-program kemasyarakatan yang dicanangkan oleh pemerintah sehingga program tersebut akhirnya tidak jalan adalah: banyak hal yang tidak seharusnya dikerjakan, justru dikerjakan; sementara banyak hal yang seharusnya dikerjakan, malah tidak dikerjakan.
v Inpres nomor 3 tahun 2010 yang diterbitkan tanggal 21 April 2010 menyatakan bahwa pengukuran keberhasilan pembangunan wajib menggunakan indikator MDGs.
v Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam penyusunan Beyond MDGs pada tahun 2015.
v Jangan pikirkan anggaran dari mana, tetapi juallah program Posdaya itu. ( Adi dan Yulaecha)
                                                            

1 komentar:

Terimasih telah memberikan komentar